SUASANA pagi di Kota Banggai, Kamis 3 Juli 2025 berbeda. Sangat cerah. Padahal beberapa hari terakhir, ibukota Kabupaten Banggai Laut (Balut), Sulawesi Tengah (Sulteng) ini ‘basah’. Yah, hujan tak henti mengguyur.
Lampu lalu lintas di perempatan Lonas, masih kawasan ibukota, berganti hijau. Pikiran tentang cuaca hari ini pun buyar. Gas ditarik, laju sepeda motor dipacu.
Beberapa meter tancap gas, motor kembali terhenti. Lampu lalu lintas di kawasan Taman Kota (Tamkot) menunjuk merah.
Di sisi kiri (jika mengarah Tamkot), tampak kendaraan pelat merah berjubel. Tepatnya di depan rumah dinas Pemerintah Daerah (Pemda) yang sementara ditempati Bupati Balut Sofyan Kaepa.
Tanpa aba-aba, otak dengan responsifnya menyimpulkan, itulah rombongan penjemput tamu istimewa dari Palu, ibukota Provinsi Sulteng. Sebab sehari sebelumnya informasi itu sudah tersiar.
Kala itu, saya tak sendiri. Ada sesepuh penting Banggai membonceng. Tujuan kami sama, nimrung dalam iring-iringan penjemput.
Sampailah di tujuan. Di pelataran rumah dinas, beberapa orang tampak wara-wiri. Ada pula yang asyik mengobrol. Sisanya, sibuk menatap layar telepon genggam.
Mereka adalah para pejabat daerah. Mulai dari kepala Oganisasi Perangkat Daerah (OPD), sekretaris, kepala bidang, hingga staf. Tak ketinggalan unsur Forkopimda, termasuk beberapa personel TNI berloreng Angkatan Laut (AL).
“Pesawat tiba jam 12 (siang) lewat di bandara,” kata salah satu pejabat yang duduk tak berjauhan denganku, menjawab pertanyaan lawan bicara.
Mendengar kata bandara, rasa penasaran semakin mendorong keinginanku ikut bersama rombongan.
Kesempatan ini akan menjadi kali pertamaku berkunjung ke bandara kebanggaan masyarakat Balut. Hitung-hitung bagian dari pengenalan tentang seluk-beluk wilayah Balut.
Di samping itu, saya juga penasaran dengan sosok Kolonel (P) Marthinus Sir. Tamu istimewa yang akan dijemput.
Perwira berpangkat tiga melati itu adalah Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Palu. Beliau berkesempatan melakukan kunjungan kerja (Kunker) di Balut.
Salah satu agenda pentingnya adalah, meninjau sekaligus menerima penyerahan tanah hibah dari Pemda Balut kepada TNI AL, khususnya Pangkalan TNI AL (Lanal) Palu. Tanah itu diperuntukan sebagai lokasi rencana pembangunan Pos TNI AL.
Seketika, pria berkaos putih keluar dari pintu utama rumah dinas sembari menggendong balita laki-laki. Beliau adalah Bupati Balut Sofyan Kaepa.
“Begini dia (si balita) kalau tidak ada neneknya,” ucap Sofyan memberi tau beberapa orang yang duduk menikmati cemilan atau sekedar bercerita ringan di teras rumah dinas.
Hanya sebentar, sosok berkharisma itu kembali masuk. Tak lama kemudian, beliau keluar dari sisi kiri rumah dengan setelan rapi.
Batik lengan panjang biru bercorak Ikan Capungan Banggai alias Cardinal Fish, dengan celana keki dan sepatu hitam.
Dari kejauhan, beliau terlihat akrab dengan para bawahan di pemerintahan. Begitu pun dengan pejabat penting unsur Forkopimda.
Entah apa yang dibicarakan, yang pasti topiknya cukup menggelitik. Di balik sosok tegasnya, Sofyan Kaepa juga memiliki selera humor tinggi.
Pada beberapa kali pertemuan, saya menangkap momen dimana beliau acap kali berkisah tentang hal-hal humoris. Berkelakar hingga memantik gelak tawa para pejabat dan pendengar lainnya.
Tak terasa, waktu menunjuk hampir pukul 12.00 Wita. Orang-orang bergegas. Mesin-mesin puluhan mobil dinas dipanaskan. Rombongan akhirnya mulai bergerak menuju Bandara Maulana Prins Mandapar di Desa Kendek.
Perjalan ke bandara dari Kota Banggai ditempuh kurang dari setengah jam. Kondisi jalannya cukup mulus. Meskipun di beberapa titik (sebagian kecil saja) berlubang.
Lain lagi dengan akses masuk bandara selepas melewati jalan poros. Kondisinya masih pengerasan. Agak berliku dan sedikit terjal.

Tapi tak perlu khawatir, jaraknya singkat, kurang dari 1,5 kilometer. Bahkan tak ada hambatan berarti untuk sekelas mobil Avanza pabrikan Toyota yang saya tumpangi.
Kata salah seorang pejabat, jalan tersebut harusnya mendapat perhatian Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulteng agar segera ditingkatkan.
Pukul 12.29 Wita, kami memasuki kawasan bandara. Kali ini ekspektasiku keliru. Kondisi jalan masuk berbanding terbalik dengan Bandara Maulana Prins Mandapar.
Aspal di lokasi jalan masuk atau parkiran mulus. Bangunannya modern dan tertata. Toiletnya pun bersih. Sekalipun tak se-mentereng Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amir di Kota Luwuk, namun jempol patut diacungkan.
Setidaknya, ini adalah capaian luar biasa Pemda Balut atas kesanggupan menyajikan kemajuan pembangunan. Terutama di sektor sarana dan prasarana transportasi.
Jika beberapa periode lalu angan-angan Balut bisa memiliki bandara hanyalah bualan. Di era kepemimpinan Bupati Sofyan Kaepa justru terbalik. Mimpi itu nyata.
Keberhasilan ini pun bukan sebatas gaga-gagahan. Tapi langkah maju yang nilai azas manfaatnya dirasakan masyarakat luas.
Beberapa pejabat bercerita, pesawat milik Maskapai Susi Air yang melayani rute Banggai, Luwuk, hingga Gorontalo tak pernah sepih penumpang.
Bahkan terkadang, para calon penumpang wajib memesan tiket jauh-jauh hari sebelum jadwal penerbangan tiba. Lengah sedikit, tiket habis.
Hebatnya lagi, Pemda Balut benar-benar memanfaatkan bandara untuk meningkatkan perekonomian masyarakat lokal.
Semua itu berkat komitmen pemerintahan Sofyan Kaepa. Janji memberikan kesempatan kerja bagi pemuda Desa Kendek, termasuk anak-anak pemilik lahan yang di manfaatkan pemerintah sebagai lokasi bandara bukan ‘omon-omon’.
Kini, sebagian besar petugas Bandara Maulana Prins Mandapar berasal dari masyarakat lokal, khususnya Desa Kendek.
Pemda Balut bahkan memfasilitasi masyarakatnya dalam meningkatkan skill dan kompetensi di bidang itu.
Tak berhenti sampai di situ, Bupati Sofyan Kaepa kabarnya telah meneken kontrak peningkatan bandara, terutama di sisi landasan pacu.

Keputusan ini diambil mengingat tingginya kuota calon penumpang, tak sebanding dengan kapasitas pesawat yang ada. Artinya, Pemda membutuhkan pesawat yang memiliki kapasitas muatan penumpang lebih besar.
Data yang dihimpun britakoe.com menyebutkan, spesifikasi Bandar Udara Maulana Prins Mandapar memiliki landasan pacu berukuran 1200 m x 30 m, dilengkapi dengan taxiway dan apron.
Bangunan gedung terminal penumpang dibangun seluas kurang lebih 1400 m2. Dimana pada perencanaan awal targetnya mampu didarati pesawat jenis ATR. Bandara ini dirancang dapat menampung 39.000 penumpang per tahun.
Pemda Balut terus berupaya mendorong bandara agar menjadi salah satu pusat perekonomian vital. Peyumbang bagi Penghasilan Asli Daerah (PAD), penopang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Namun, gelinding roda pemerintahan tak selamanya mulus. Sebaik apapun capaian kinerja dan prestasi pemimpin, tak terlepas dari deru suara sumbang.
Entalah, skip! Saya hanya ingin berbagi cerita singkat tentang kunjungan ke Bandar Udara Maulana Prins Mandapar. Bukan mengoreksi pandangan kelompok yang selalu melihat kinerja Pemda Balut menggunakan lensa kebencian.
Bandara hanyalah sekelumit hasil perjuangan serta kerja keras Pemda Balut lima tahun terakhir.
Kini, ‘atap’ Kabupaten Banggai Laut berubah. Dulu hanyalah arena burung berseliweran. Kini jadi lintaran ‘burung besi’ Susi Air. Besok-besok mungkin giliran maskapai yang lebih besar, amin.***






