BANGKEP – Pro kontra rencana pertambangan batu gamping di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah (Sulteng) belum berakhir.
Amatan media ini, tarik-menarik persepsi publik terkait eksplorasi Sumber Daya Alam (SDA) di Pulau Peling kembali menguat beberapa pekan terakhir.
Tak hanya di lingkungan pemukiman masyarakat, namun merembes hingga ke ruang-ruang diskusi grup publik di beberapa platform media sosial (medsos).
Nama salah satu pengusaha sukses asal Bangkep, Rein Gulla pun ikut terseret dalam pusaran itu. Dia dikait-kaitkan dengan keberadaan empat perusahaan yang kabarnya akan mengeruk potensi di Desa Kambani, Lelang Matamaling, hingga Toi-Toi.
Perusaahan dimaksud adalah, PT Defia Anugerah Sejahtera, PT Gamping Bumi Asia, PT Gamping Sejahtera Mandiri, dan PT Prima Tambang Semesta.
Informasi itu langsung dimentahkan Rein Gulla. Kepada sejumlah awak media, dia menegaskan, dirinya telah menarik diri dari kepentingan pertambangan.
Keputusannya bukan tanpa alasan. Dia melihat, ada faktor yang lebih penting ketimbang bisnis.
“Saya ada 36 perusahaan yang kini beroperasi di luar daerah (Bangkep), semuanya berjalan dan menghasilkan. Terkait di Bangkep, orientasi saya bukan lagi untuk memperkaya diri, tapi menciptakan lapangan pekerjaan untuk mendorong perekonomian masyarakat,” ungkapnya ketika dikonfirmasi sejumlah awak media via panggilan WhatsApp, Minggu 28 September 2025.
Olehnya, dia membantah jika kemudian dirinya disebut-sebut menjadi aktor dibalik upaya empat perusahaan tersebut.
“Empat perusahaan itu bukan milik saya,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rein mengakui awalnya dia berniat memanfaatkan potensi pertambangan khusus di Desa Toi-Toi. Berbeda dengan desa lainnya, kehadiran Rein di Toi-Toi justru mendapat respon positif dari mayoritas masyarakat desa.
Namun, arus penolakan di wilayah lainnya begitu deras hingga mempengaruhi situasi di Toi-Toi. Karena telah menimbulkan gejolak, Rein akhirnya mengurungkan niatnya.
“Saya ini orang asli Bangkep pak. Mana mungkin saya mau merusak daerah saya sendiri. Jadi dari pada berpolemik dengan gamping, mending saya fokus pada hal-hal positif yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Nama Rein Gulla kian familiar bersamaan dengan rencana masuknya investasi pertambangan di Bangkep. Bagi segelintir kelompok, dirinya digambarkan ibarat momok yang mengkhatirkan bagi kelangsungan kehidupan rakyat Pulau Peling.
Fakta mengejutkan justru perlahan terkuak. Alih-alih merusak, Rein justru adalah sosok dermawan yang secara langsung berkontribusi membantu masyarakat dan daerah.
Selama ini, segelintir kelompok hanya memframingnya dengan ambisi pertambangan. Namun yang jauh dari sorotan media, Rein secara sukarela dan konsisten menjalankan aksi-aksi sosialnya kepada rakyat Bangkep.
Mulai dari pembanguan rumah ibadah, menggelorakan sejumlah cabang olahraga di lingkungan masyarakat melalui lomba, termasuk mancing berbasis wisata.
Dia juga mendorong penuh percepatan pembangunan Bangkep, salah satunya Pelabuhan Peti Kemas Salakan. Sebab menurutnya, kehadiran pelabuhan efektif mendongkrak perekonomian daerah.
Ditanya mengapa aksi-aksi sosialnya jauh dari sorotan media? Rein mengatakan, dirinya menghindari asumsi liar publik.
“Dalam menjalankan aksi sosial di Bangkep, selama ini saya memang tidak melibatkan media. Karena saya menghindari pandangan liar publik, jangan sampai ini dibilang bentuk pencitraan atau riah untuk kepentingan mencalonkan diri ke depan di Bangkep,” pungkasnya.***














