GLOBAL – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengindahkan ajakan Amerika Serikat (AS) setelah Presiden Donald Trump mengatakan jika perundingan AS dengan Teheran dapat dimulai kembali paling cepat minggu ini.
Komentar Araghchi muncul ketika para menteri luar negeri G7 mengeluarkan pernyataan yang menyerukan dialog mengenai kesepakatan untuk mengekang program nuklir Iran, Selasa 1 Juli 2025.
Iran dan AS tengah mengadakan pembicaraan mengenai program nuklir Teheran ketika Israel melancarkan serangan terhadap infrastruktur nuklir dan militer Iran. AS kemudian bergabung dalam serangan Israel, dengan mengebom situs Fordow, Natanz, dan Isfahan pada 21 Juni lalu.
Teheran bersikeras programnya bersifat damai, tetapi AS dan Israel ngotot ingin memastikan Iran tidak dapat membuat senjata nuklir. Araghchi mengatakan, negosiasi tidak akan dimulai secepat keinginan Trump. Iran pertama-tama membutuhkan jaminan terhadap serangan lebih lanjut.
“Agar kami memutuskan untuk terlibat kembali, kami harus terlebih dahulu memastikan bahwa Amerika tidak akan kembali menargetkan kami dalam serangan militer selama negosiasi. Saya pikir dengan semua pertimbangan ini, kami masih membutuhkan lebih banyak waktu,” katanya melansir dari Aljazeera.
Meski begitu, dia tidak mengisyaratkan jika upaya diplomasi kedua negara telah tertutup rapat.
Diketahui, pemerintahan Trump tengah berupaya melakukan perundingan dengan Iran setelah presiden AS. Di masa jabatan pertamanya, Trump membatalkan perjanjian yang ditandatangani pendahulunya dengan Teheran pada tahun 2015, yang mengekang program nuklir dengan imbalan keringanan sanksi.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Iran diizinkan untuk memperkaya uranium dengan kemurnian di bawah 3,67 persen untuk bahan bakar yang digunakan dalam pembangkit listrik tenaga nuklir komersial.
Setelah Trump membatalkan kesepakatan tersebut, Iran menanggapinya dengan memproduksi uranium yang diperkaya hingga 60 persen, di atas tingkat untuk penggunaan sipil tetapi masih di bawah tingkat senjata.
Trump mengatakan, serangan AS telah melenyapkan situs nuklir Iran. Pejabat senior mengatakan, hampir mustahil bagi negara itu untuk menghidupkan kembali program atomnya. Namun, Araghchi menepis pernyataan itu.
“Kita tidak dapat melenyapkan teknologi dan sains untuk pengayaan melalui pengeboman,” katanya.
“Jika ada kemauan dari pihak kita, dan kemauan itu ada untuk sekali lagi membuat kemajuan dalam industri ini, kita akan dapat segera memperbaiki kerusakan dan menebus waktu yang hilang,” tambahnya.
Sejak serangan AS dan Israel, dan gencatan senjata berikutnya, Iran telah menangguhkan kerja samanya dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) karena apa yang disebut Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada hari Senin sebagai perilaku “destruktif” kepala badan tersebut terhadap negara tersebut.***














