banner 728x90

Pemancing Gurita dan Involusi Perikanan

Nelayan gurita di Desa Lobuton, Kecamatan Totikum Selatan.[FOTO: IDHAM]
banner 500x50

Oleh: Idham Malik, Community Development Coordinator, Yayasan Blue Alliance Indonesia, Banggai MPA Area 11-13

SAYA tiba di Sekretariat Burung Indonesia, Desa Okumel, Kecamatan Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, pada sore hari, Senin, 7 Juli 2025. Saya langsung duduk di kursi halaman rumah, yang berhadapan dengan jalanan dan di depannya terdapat lingkungan sekolah dasar. 

Langsung saja saya berkenalan dengan Pak Hamka, nelayan bagang cumi suntung, yang tak lain adalah ayah seorang fasilitator lapangan Burung Indonesia, Agung. Agung sudah cukup lama saya kenal, sering diskusi jika bertemu di Kantor Burung Indonesia di Kota Salakan. 

Agung pun datang dan turut duduk berdikusi. Kami membicarakan tema-tema umum perikanan dan masyarakat pedesaan. Cukup banyak informasi yang tertukar. 

Hamka atau biasa disapa bapa Agung ternyata orang yang kaya informasi. Ia bisa nyambung dengan semua tema pembicaraan. Termasuk tema pengeboman ikan, sebab ia dari kecil hingga pemuda tinggal di Pulau Bangkurung, jadi tahu banyak tentang aktivitas pengeboman ikan di sana. 

Menjelang pukul 21.00 wita, Ridho, seorang fasilitator burung Indonesia yang lain ikut gabung. Nah Ridho inilah yang mendampingi saya selama empat hari untuk mendata nelayan pemancing gurita di empat desa di Kecamatan Liang, yaitu Desa Okumel, Tomboniki, Mamulusan dan Kindandal. 

Malam itu langsung saja kami mendatangi seorang nelayan di Desa Tomboniki. Saya penasaran dengan patung manusia memegang tombak di salah satu lingkar jalan Desa Tomboniki. 

Kata Ridho, Tomboniki sendiri artinya penombak kalelawar. Berarti dahulu penduduk Tomboniki adalah pemburu kalelawar. Katanya masih ada satu atau dua orang yang mencari kalelawar untuk dikonsumsi. 

Nelayan pertama yang kami temui bernama Salni. Ia seorang pria yang humoris. Kami bicara serius di awal-awal, saya menanyakan beberapa pertanyaan seputar gurita; berapa jumlah nelayan, berapa jumlah gurita yang ditangkap, berapa lama dalam seminggu, dalam sehari, dimana dijual dan oleh siapa, dan lain-lain. Barangkali, tidak cukup 30 menit untuk menanyakan semua pertanyaan itu. 

Berikutnya, kami ngobrol bertiga ngorol ngidul, hingga membahas kebiasaan orang yang sebentar lagi meninggal dan apa jadinya kalau kita mengendarai motor sendiri di malam hari lalu dipeluk kuntilanak dari belakang. 😀

Dari Salni saya tahu kalau nelayan gurita betul-betul hanya nelayan gurita. Mulanya saya berpikir nelayan gurita ini hanya mencari gurita di musimnya, misalnya antara Desember sampai April, selain itu melakukan aktivitas lain seperti memancing ikan atau menyelam memanah ikan. 

Di Tomboniki, sekitar 40-an nelayan mencari gurita hampir setiap hari seminggu, tentu dengan menyesuaikan kondisi cuaca (badai dan ombak), serta berlangsung sepanjang tahun. Selain itu, aktivitas itu dilakukan dari usia yang masih sangat muda, umumnya nelayan-nelayan yang berikutnya saya wawancarai juga memiliki pengalaman yang sama.

Begitu halnya nelayan gurita di desa Mamulusan, Okumel dan Kindandal. Juga melakukan penangkapan gurita hampir setiap hari sepanjang tahun. Mereka menggantung diri dari pencarian gurita untuk menghidupi diri dan keluarga. 

Di Kecamatan Liang sendiri, saya perkirakan terdapat 200 nelayan yang hidup dari pencarian gurita. Ini menunjukkan besarnya permintaan pasar akan gurita sehingga mendorong nelayan untuk mengabdikan dirinya untuk seumur hidup mencari gurita.

Barangkali, nelayan ini tidak tahu seperti apa bisnis gurita ini skala besarnya. Kenapa permintaan gurita cukup tinggi? Apakah gurita ini sudah menjadi makanan pokok di luar negeri sana? Setahu saya, selama menetap di Banggai Kepulauan, orang lokal tidak begitu mengkonsumsi gurita. Hampir sepenuhnya mereka menjual gurita yang mereka tangkap. 

Sepertinya penting untuk mencari tahu dan menjelaskan ke para nelayan, gurita yang dia tangkap sebenarnya diolah seperti apa dan untuk kebutuhan apa.  

Sepanjang Juli ini mereka terus berjuang untuk mencari gurita, selain karena cuaca buruk dan hujan yang selalu menemani di laut, jumlah gurita juga semakin berkurang. 

Gurita yang berukuran sedang atau di bawah satu kilogram sudah berkurang-jarang ditemukan, yang tampak selalu ditangkap nelayan adalah gurita berukuran di atas satu kilogram atau kelas B dan kelas A. Umumnya mereka hanya menemukan gurita selama 6-10 jam di perairan laut sebanyak 3-5 kilogram. Jika pada musimnya dapat memperoleh 10-18 kilogram. 

“Jumlah tangkapan cukup untuk menutupi ongkos bensin dan rokok. Jangan sampai tidak mencari modal. Tapi modal yang tergali,” kata Salni. 

Nelayan lain ada yang mengaku selama beberapa hari ‘nyonyor’ atau tidak dapat apa-apa.

Dari sini kita pun tahu, pola hidup nelayan dihadapkan dengan kondisi alam. Ada waktu-waktu tertentu mereka menang banyak. Sangat mudah memperoleh rezeki. Namun ada waktu tertentu, yang kadang lebih panjang, dimana mereka kesulitan untuk mencari objek tangkapan. 

Jadinya, Tabungan di hari-hari jaya itu tergerus untuk digunakan menutupi kebutuhan sehari-hari. Berbeda misalnya dengan pendapatan pegawai negeri atau karyawan swasta yang tetap setiap bulan. 

Nelayan, bergantung dengan kondisi alam dan kondisi fisik masing-masing orang. Nelayan yang sudah berumur, misalnya 50 tahun ke atas tentu memiliki kemampuan fisik di bawah nelayan berusia 30 tahunan. 

“Kalau panas matahari, saya masih bisa tahan mencari gurita, tapi kalau hujan, sedikit saja saya sudah menggigil dan pulang ke darat,” kata seorang nelayan di Lobuton. 

Menjadi pertanyaan, kenapa nelayan ini begitu bergantung pada penangkapan gurita, walaupun pada masa-masa sulit mereka terus mencari? Kenapa tidak beralih misalnya ke pancing ikan atau panah malam, atau menjaring ikan. 

Pertama karena harga gurita pada saat itu lebih baik dari pada saat musim tangkap gurita, misalnya harga untuk kelas A pada musim banyak gurita Rp. 55.000, pada musim angin kencang seperti ini dapat mencapai Rp. 75.000/kilogram, ini menstimulasi nelayan untuk terus berusaha mencari gurita. 

Kedua, pindah haluan seperti itu ternyata sulit bagi nelayan kecil. Mereka dari kecil terbiasa pada satu ‘jurusan’ atau satu ‘profesi’ yang mereka rasa nyaman, baik itu sebagai pemancing gurita, pemanah ikan, termasuk juga pengebom ikan. Jadinya, begitu sulit sebenarnya untuk mengalihkan seseorang pelaku destruktif fishing yang dari kecil dia dilatih untuk mengebom ikan atau membius ikan menuju praktik yang lain. 

Jika menurut Amartya Sen, hal ini terkait kapabilitas seseorang, kemampuan seseorang untuk bertahan hidup. Semakin beragam pengalaman dalam mencari ikan justru semakin baik. Lagi-lagi praktik kebudayaan yang beragam justru bermanfaat bagi daya sintas seseorang dalam menjalani kehidupan.

Selama empat hari saya di Kecamatan Liang, hari Selasa, 8 Juli 2025 saya ditemani Ridho mendatangi nelayan gurita di Okumel, Tomboniki dan Mamulusan. 

Besoknya, Rabu, 9 Juli 2025 kami ke Kindandal yang hampir semua nelayannya mencari gurita. Di situ saya melihat seorang nelayan membuat gara-gara kayu dengan kili-kili dan leper. 

Kamis, saya sudah ke Salakan untuk persiapan hari Jumat kunjungan ke Kalumbatan dan Sabtu ke Lobuton. 

Umumnya nelayan sudah menggunakan gara-gara kayu (cipo), dahulu menggunakan gara-gara kain. Gara-gara kayu dapat memancing gurita Jantan dan betina keluar dari persembunyian, karena bentuknya menarik, mirip mangsanya berupa kepiting disertai bling-bling dari sendok kecil. 

Sedangkan gara-gara kain (manis-manis), yang bentuknya mirip gurita betina hanya memancing gurita Jantan dewasa yang keluar dari persembunyian. 

Menurut beberapa nelayan, sejak penggunaan cipo, penangkapan gurita semakin intensif dan kurang batasan. Sehingga menimbulkan indikasi penurunan stok sumberdaya gurita di perairan. 

Jika begitu, akan menunjukkan indikasi ‘involusi perikanan’ atau proses pemiskinan secara bersama secara perlahan lantaran bergantung pada penggunaan sumberdaya secara bersama, yang lama kelamaan semakin berkurang. 

Kenyataan saat ini, ratusan orang Banggai Kepulauan tiap hari turun memancing gurita, di hampir setiap reef/kawasan terumbu karang yang ada di perairan Banggai Kepulauan, baik wilayah barat, selatan, dan timur Pulau Peling, bahkan juga melintas ke kawasan perairan Banggai Laut. 

Mungkin penangkapan massif tiap hari ini tidak sebanding dengan kemampuan gurita itu sendiri untuk bereproduksi. Sebab nelayan menangkap gurita mulai dari yang berukuran besar, di atas 2 kilogram hingga yang hanya berukuran sekitar 200 dan 300 gram. 

Di beberapa lokasi, pengepul mengambil semua kelas ukuran/size. Meskipun begitu, pengepul di Kalumbatan dan Lobuton yang tidak mengambil ukuran yang terkecil, yaitu 200-300 gram. Jika nelayan membawa ke pengumpul, itu dikembalikan lagi ke nelayan untuk dibuatkan bahan makan saja. 

Perlu menjadi perhatian serius, seperti apa langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencegah terjadinya over fishing atau kelebihan tangkap nelayan yang menghambat kemampuan gurita untuk mempertahankan populasinya di laut. Apalagi dengan masih maraknya pengeboman ikan yang merusak kawasan terumbu karang tempat gurita bersembunyi. 

Apakah harus dilakukan skema buka tutup laut? Kenyataan di lapangan saya perhatikan, ketika satu lokasi ditutup, misalnya di depan kampung Kalumbatan dan Lobuton. Nelayan Kalumbatan sebenarnya lebih banyak mencari di perairan depan kampung Palam, Kombotokan dan Togong Potil, yang letaknya di sisi timur atas Pulau Peling. 

Sedangkan nelayan Lobuton mencari gurita di perairan depan Paisumosoni dan Tonuson, depan Mansamat, Masalean, dan Bobu. Sebab, gurita di depan Kalumbatan dan Lobuton sendiri sudah jauh berkurang. 

Nelayan senyatanya tiap hari melaut, jika dia tidak melaut hari ini? Berarti tidak menutup kemungkinan tidak ada ongkos perjalanan esok hari, tidak ada pasokan bahan baku pangan, dan mereka kembali mengutang kepada pengepul.

Lantas, apa yang harus dilakukan? Sebisanya sedini mungkin mempersiapkan generasi nelayan akan datang untuk tidak bergantung pada satu sumber penghasilan, memperkaya mereka dengan beragam skill, memperkuat sumberdaya manusia agar mereka dapat memiliki pilihan-pilihan lain dalam memperoleh uang. 

Tentu ini sulit dilakukan tapi bukan hal mustahil. Sebab, saya percaya, manusia selalu menemukan strategi untuk bertahan hidup. Tapi, ada baiknya, sebelum sumberdaya betul-betul berkurang dan tidak dapat diterapkan, segera memulai untuk menyusun peta jalan untuk keluar dari lingkar setan keterbatasan sumberdaya dan kemiskinan.***   

banner 325x300
Penulis: Idham MalikEditor: Laode Iman Firmansyah
banner 250x100
error: Content is protected !!